Selasa, 14 Februari 2012

Sejarah Hari Valentine

 
Jutaan orang bertukar kartu cinta, kado spesial, hingga pesan cinta sebagai simbol perayaan Valentine yang jatuh setiap 14 Februari. Mereka memaknai Valentine sebagai hari kasih sayang.

Tapi, tahukah kamu darimana Hari Valentine berasal?

Hari yang dirayakan sebagai simbol kasih sayang ini bermula dari Festival Lupercalia yang berlangsung di jaman kerajaan Romawi, sekitar abad ke-3. Festival yang berlangsung setiap 13-18 Februari ini diawali dengan persembahan untuk dewi cinta Juno Februata.

Tepat pada 14 Februari, para pemuda akan mengundi nama-nama gadis dari dalam kotak kaca. Gadis yang terpilih akan menjadi pasangannya selama setahun untuk kesenangan dan objek hiburan.

Sehari kemudian, mereka akan meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan makhluk jahat. Saat itu, para pemuda akan melecut para gadis dengan kulit binatang. Mereka percaya lecutan itu akan meningkatkan kesuburan para gadis.

Festival iti tak jarang membuat banyak pasangan saling jatuh cinta, berpacaran, dan akhirnya menikah. Dalam perkembangannya, penguasa dan para tokoh agama setempat mengadopsi upacara ini dengan nuansa Kristiani seiring masuknya Kristen Katolik sebagai agama kerajaan.

Saat Romawi terlibat peperangan, efek festival itu membuat Kaisar Claudius II, yang berkuasa saat itu, kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat pasukan perangnya. Banyak pemuda yang berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya.

Atas kondisi itu, Claudius II akhirnya memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Kebijakan ini rupanya mendapat pertentangan dari salah satu pastor setempat bernama Valentine.

Konon, Claudius II pun murka melihat Valentine diam-diam tetap menikahkan pasangan yang jatuh cinta. Sang kaisar segera memerintahkan pengawal kerajaan untuk menangkap Valentine dan memenggalnya. Valentine meninggal tepat 14 Februari tahun 270 Masehi.

Demi mengenang perjuangan Santo Valentine, tokoh agama mengganti nama festival Lupercalia dengan festival Valentine. Dalam perkembangannya, 14 Februari menjadi momentum sakral bagi para pria untuk memilih gadis yang hendak dijadikan pasangan hidupnya.

Meski tak diketahui apakah legenda ini benar atau tidak, tapi ini adalah penjelasan yang tepat versi Kristen atas yang terjadi pada Lupercalia.

Di kehidupan modern, Valentine diabadikan sebagai hari kasih sayang. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal oleh Esther A Howland pada 1847. Di Jepang, Valentine dianggap sebagai hari saat para wanita memberi permen cokelat untuk pria yang mereka senangi.

Sementara di Indonesia, budaya semacam itu juga mulai menjamur terutama di kalangan anak muda. Banyak pusat perbelanjaan dan kafe yang menghias tempat mereka dengan warna pink. Cokelat dan kartu-kartu Valentine bertuliskan kata-kata cinta juga kian diminati, terutama di kota-kota besar.

Tapi tak berarti hari-hari di luar tanggal 14 Februari bukan hari yang penuh dengan kasih sayang. Karena kasih sayang selalu ada kapan saja, tak hanya di hari Valentine semata

Senin, 13 Februari 2012

Laporan KKL "Peliputan Berita PILPRES 2009-2014"

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Masalah
Sebelumnya kami mengucapkan beribu banyak terimakasih kepada Universitas 17 Agustus 1945 dan Fakultas FISIP – Ilmu Komunikasi serta segenap pengajar kami di TVRI yang telah membantu kami dalam menyelesaikan kewajiban kami sebagai mahasiswa ilmu komunikasi.
Dalam memenuhi sks, kami mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 ( UNTAG) , Fakultas Fisip – Ilmu Komunikasi, Jurusan jurnalistik diwajibkan melakukan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Tugas KKL ini merupakan prioritas Universitas 17 agustus 1945 yang diberikan kepada mahasiswa yang merupakan calon sarjana komunikasi dan menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi.
Untuk memenuhi kewajiban kami sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, kami melakukan kuliah kerja lapangan yang diwajibkan oleh Universitas dan Fakultas. kami mengambil kuliah kerja lapangan disalah satu media elektronik dan pilihan kami di Stasiun telvisi Republik Indonesia ( TVRI ).
Di TVRI kami mempelajari mengenai ruang lingkup media elektronik yang mencakup mengenai beberapa sub bagian diantaranya Cameramen, Reporter, Editor, dan Penyiaran berita. Dan dalam tugas kuliah ini kami lebih menekankan pada peliputan berita ( Reporter ).
Sengaja kami mengambil tema mengenai peliputan berita Pilpres,karena ada beberapa alasan yang menjadi landasan kami sebagai mahasiswa Fisip dengan jurusan komunikasi. Pertama, karena saatnya bertepatan sekali dengan pemilu Pilpres. Hal ini sangat relevan sekali terkait hubungannya dengan fakultas dan jurusan yang kita ambil sebagai mahasiswa Fisip. Dengan mengambil tema tersebut kita berusaha dan belajar secara tidak langsung terhadap kegiatan politik praktis yang tengah berlangsung sekarang ini melalui media elektronik yang dalam hal ini stasiun TVRI. Kedua, kita mengambil berita dengan tema tersebut dari sudut pandang jurnalistik, yang kebetulan sekali kita memang mengambil konsentrasi jurusan jurnalistik.Dalam kegiatan pengambilan berita, kita berusaha untuk belajar mengaplikasikan ilmu jurnalistik yang kita peroleh di bangku kuliah.
1.2 Maksud dan Tujuan Kuliah Kerja Lapangan
Kuliah Kerja Lapangan yang kami lakukan bermaksud untuk lebih bisa memahami apa yang telah diajarkan di universitas bisa diterapkan pada dunia nyata atau dunia kerja khususnya pada penerapan ilmu komunikasi (jurnalistik), dan kuliah kerja lapangan ini juga bermaksud agar kami sebagai mahasiswa bisa lebih mengenal dengan dunia jurnalistik, yang merupakan jurusan kami di fakultas. Di samping itu juga kita dapat mengukur sejauh mana ilmu yang kita dapatkan di bangku kuliah dapat diaplikasikan kedalam dunia kerja terutama sekali yang berkaitan dengan dunia jurnalistik.
Pada akhirnya nanti setelah kita dapat mengaplikasikan ilmu yang kita peroleh di Universitas di dalam dunia kerja melalui kegiatan KKL ini, apabila suatu saat kita berkecimpung dalam dunia jurnalistik, kita tidak canggung lagi dalam menerapkan ilmu yang telah kita peroleh. Dengan demikian kita akan menjadi seorang jurnalis yang punya dasar ilmu yang memadai dan yang bertanggung jawab atas berbagai hasil berita yang telah kita buat. Karena bagaimana pun juga seorang jurnalis selain dituntut untuk professional juga dituntut untuk mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi yang di landasi oleh kode etik jurnalistik.
1.3 Metode Pengumpulan Data Kuliah Kerja Lapangan
Metode pengumpulan data yang kami gunakan adalah survey dan observasi selama 3 ( tiga ) minggu yang kami lakukan di TVRI dan beberapa wilayah yang menjadi tugas yang diberikan oleh TVRI dalam melakukan peliputan diberbagai wilayah ibukota Jakarta. Karena dengan melakukan survey atau wawancara secara langsung, meskipun kami sebagai mahasiswa KKL yang hanya bertugas sebagai pendamping bagi para reporter ( para pencari berita), setidaknya kami dapat secara langsung memperoleh berita dari narasumbernya atau dari yang berkompeten lainnya.
BAB II
Teori Yang Terkait Dengan Tema Kuliah Kerja Lapangan
Teori yang terkait dengan tema KKL ini, kembali saya menggunakan model dari komunikasi massa, yaitu model Two Step Flow of Communication ( model komunikasi dua tahap ). Teori ini mengenai keterhubungan antara kegiatan jurnalistik dalam perspektif politik. . Model Komunikasi Massa Bass
Untuk membantu kami sebagai mahasiswa KKL dalam membahas masalah dalam peliputan ini, kita mencoba menggunakan bantuan Model Komunikasi, yaitu Model Arus-Berita Internal Dua Tahap Bass (1969). Asumsi dari Teori Bass ini adalah : “Tindakan Gatekeeping yang paling penting terjadi di dalam organisasi pemberitaan dan bahwa prosesnya dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu perolehan berita dan pengolahan berita”. Penjelasan dari Model Bass adalah : tahap pertama terjadi ketika para pencari berita membuat “berita kasar” (peristiwa, pidato, konferensi pers) menjadi “copy berita” atau “bahan berita”. Tahap kedua terjadi ketika para pengolah berita merubah atau menggabungkan bahan-bahan itu menjadi hasil akhir (sebuah surat kabar atau siaran berita) yang disiarkan kepada umum.
Pemahaman kami dari gambaran model diatas adalah bahwa Bass memperlihatkan suatu proses terjadinya berita sebelum dipublikasikan di media dalam hal ini Televisi dan ditonton banyak orang. Bahan-bahan berita yang masuk ke redaksi tidak langsung ditayangkan, tetapi melalui proses yang ditangani oleh gatekeeper. Adapun arti gatekeeper itu sendiri adalah orang yang bertugas untuk menyeleksi berita-berita yang masuk ke redaksi untuk kemudian dikoreksi, dalam hal ini Kepala Redaktur Berita Siang. setelah redaksi selesai melakukan proses pengeditan barulah berita tersebut layak untuk disajikan kepada pemirsa.
Dengan demikian asumsi kami sebagai mahasiswa KKL dalam proses penyajian berita televisi tidak lepas dari adanya suatu proses berita. Penyajian berita baik berita dari dalam negeri maupun dari luar negeri menjadi berita televisi harus melalui satu dari seri tahapan-tahapan proses berita.
BAB III
Pembahasan
3.1 Gambaran Umum TVRI
Televisi Republik Indonesia (TVRI), merupakan lembaga penyiaran publik, dan merupakan stasiun televisi yang dimiliki negara republik indonesia, yang berdiri pada 23 agustus 1962 dan diresmikan oleh presiden pertama republik indonesia Ir. Soekarno
Televisi Republik Indonesia (TVRI) adalah stasiun televisi pertama di Indonesia, yang mengudara sejak tahun 1962 di Jakarta, pada Siaran perdananya menayangkan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-17 dari Istana Negara Jakarta. Siarannya ini masih berupa hitam putih. TVRI kemudian meliput Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta dan di Jakarta Timur di Sentul Pada Tanggal 24 Agustus 1962 sejak Capcom di Jepang pada tahun 1979 dan di Jakarta Indonesia pada sejak 1983.
Dahulu TVRI pernah menayangkan iklan dalam satu tayangan khusus yang dengan judul acara Mana Suka Siaran Niaga (sehari dua kali). Pada tahun 80-an dan 90-an TVRI tidak diperbolehkan menayangkan iklan nayang iklannya hanya di jakarta timur, dan akhirnya TVRI kembali menayangkan iklan. Status TVRI saat ini adalah Lembaga Penyiaran Publik. Sebagian biaya operasional TVRI masih ditanggung oleh negara. TVRI memonopoli siaran televisi di Indonesia sebelum tahun 1989 ketika didirikan televisi swasta pertama RCTI di Jakarta, dan SCTV pada tahun 1990 di Surabaya.
3.1.1 latar belakang berdirinya TVRI
• Pada tahun 1961, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memasukkan proyek media massa televisi ke dalam proyek pembangunan Asian Games IV di bawah koordinasi urusan proyek Asian Games IV.
• Pada tanggal 25 Juli 1961, Menteri Penerangan mengeluarkan SK Menpen No. 20/SK/M/1961 tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T).
• Pada 23 Oktober 1961, Presiden Soekarno yang sedang berada di Wina mengirimkan teleks kepada Menteri Penerangan saat itu, Maladi untuk segera menyiapkan proyek televisi (saat itu waktu persiapan hanya tinggal 10 bulan) dengan jadwal sebagai berikut:
1. Membangun studio di eks AKPEN di Senayan (TVRI sekarang).
2. Membangun dua pemancar: 100 watt dan 10 Kw dengan tower 80 meter.
3. Mempersiapkan software (program dan tenaga).
• Pada tanggal 17 Agustus 1962, TVRI mulai mengadakan siaran percobaan dengan acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia XVII dari halaman Istana Merdeka Jakarta, dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. Kemudian pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno.
• Pada tanggal 20 Oktober 1963, dikeluarkan Keppres No. 215/1963 tentang pembentukan Yayasan TVRI dengan Pimpinan Umum Presiden RI.
• Pada tahun 1964 mulailah dirintis pembangunan Stasiun Penyiaran Daerah dimulai dengan TVRI Stasiun Yogyakarta, yang secara berturut-turut diikuti dengan Stasiun Medan, Surabaya, Ujungpandang (Makassar), Manado, Denpasar dan Balikpapan (bantuan Pertamina).
3.1.2 Pembangunan Stasiun Produksi Keliling
Mulai tahun 1977, secara bertahap di beberapa ibu kota Provinsi dibentuklah Stasiun-stasiun Produksi Keliling atau SPK, yang berfungsi sebagai perwakilan atau koresponden TVRI di daerah, yang terdiri dari:
1. SPK Jayapura
2. SPK Ambon
3. SPK Kupang
4. SPK Malang (Tahun 1982 diintegrasikan dengan TVRI Stasiun Surabaya)
5. SPK Semarang
6. SPK Bandung
7. SPK Banjarmasin
8. SPK Pontianak
9. SPK Banda Aceh
10. SPK Jambi
11. SPK Padang
12. SPK Lampung
3.1.3 Status TVRI pada Era Orde Baru
Tahun 1974, TVRI diubah menjadi salah satu bagian dari organisasi dan tatakerja Departemen Penerangan, yang diberi status Direktorat, langsung bertanggung-jawab pada Direktur Jendral Radio, TV, dan Film, Departemen Penerangan Republik Indonesia.
Sebagai alat komunikasi Pemerintah, tugas TVRI adalah menyampaikan informasi tentang kebijakan Pemerintah kepada rakyat dan pada waktu yang bersamaan menciptakan two-way traffic (lalu lintas dua jalur) dari rakyat untuk pemerintah selama tidak mendiskreditkan usaha-usaha Pemerintah.
Pada garis besarnya tujuan kebijakan Pemerintah dan program-programnya adalah untuk membangun bangsa dan negara Indonesia yang modern dengan masyarakat yang aman, adil, tertib dan sejahtera, yang bertujuan supaya tiap warga Indonesia mengenyam kesejahteraan lahiriah dan mental spiritual. Semua kebijaksanaan Pemerintah beserta programnya harus dapat diterjemahkan melalui siaran-siaran dari studio-studio TVRI yang berkedudukan di ibukota maupun daerah dengan cepat, tepat dan baik. Semua pelaksanaan TVRI baik di ibu kota maupun di Daerah harus meletakkan tekanan kerjanya kepada integrasi, supaya TVRI menjadi suatu well-integrated mass media (media massa yang terintegrasikan dengan baik) Pemerintah.
Tahun 1975, dikeluarkan SK Menpen No. 55 Bahan siaran/KEP/Menpen/1975, TVRI memiliki status ganda yaitu selain sebagai Yayasan Televisi RI juga sebagai Direktorat Televisi, sedang manajemen yang diterapkan yaitu manajemen perkantoran/birokrasi.
3.1.4 TVRI di Era Reformasi
Bulan Juni 2000, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2000 tentang perubahan status TVRI menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), yang secara kelembagaan berada di bawah pembinaan dan bertanggung jawab kepada Departemen Keuangan RI.
Bulan Oktober 2001, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 64 tahun 2001 tentang pembinaan Perjan TVRI di bawah kantor Menteri Negara BUMN untuk urusan organisasi dan Departemen Keuangan Republik Indonesia|Departemen Keuangan RI untuk urusan keuangan.
Tanggal 17 April 2002, diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 2002, status TVRI diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) TVRI di bawah pengawasan Departemen Keuangan RI dan Kantor Menteri Negara BUMN. Selanjutnya melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, TVRI ditetapkan sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara. Semangat yang mendasari lahirnya TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik adalah untuk melayani informasi untuk kepentingan publik, bersifat netral, mandiri dan tidak komersial. Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2005 menetapkan bahwa tugas TVRI adalah memberikan pelayanan informasi, pendidikan dan hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan penyiaran televisi yang menjangkau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan stasiun televisi tertua di Indonesia dan satu-satunya televisi yang jangkauannya mencapai seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah penonton sekitar 82 persen penduduk Indonesia. Saat ini TVRI memiliki 27 stasiun Daerah dan 1 Stasiun Pusat dengan didukung oleh 376 satuan transmisi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Ke 27 TVRI Stasiun Daerah tersebut adalah :
1. TVRI Stasiun DKI Jakarta
2. TVRI Stasiun Nangroe Aceh Darussalam
3. TVRI Stasiun Sumatera Utara
4. TVRI Stasiun Sumatera Selatan
5. TVRI Stasiun Jawa Barat dan Banten
6. TVRI Stasiun Jawa Tengah
7. TVRI Stasiun Jogyakarta
8. TVRI Stasiun Jawa Timur
9. TVRI Stasiun Bali
10. TVRI Stasiun Sulawesi Selatan
11. TVRI Stasiun Kalimantan Timur
12. TVRI Stasiun Sumatera Barat
13. TVRI Stasiun Jambi
14. TVRI Stasiun Riau dan Kepulauan Riau
15. TVRI Stasiun Kalimantan Barat
16. TVRI Stasiun Kalimantan Selatan
17. TVRI Stasiun Kalimantan Tengah
18. TVRI Stasiun Papua
19. TVRI Stasiun Bengkulu
20. TVRI Stasiun Lampung
21. TVRI Stasiun Maluku dan Maluku Utara
22. TVRI Stasiun Nusa Tenggara Timur
23. TVRI Stasiun Nusa Tenggara Barat
24. TVRI Stasiun Gorontalo
25. TVRI Stasiun Sulawesi Utara
26. TVRI Stasiun Sulawesi Tengah
27. TVRI Stasiun Sulawesi Tenggara
Karyawan TVRI pada Tahun Anggaran 2007 berjumlah 6.099, terdiri atas 5.085 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 1.014 orang Tenaga Honor/Kontrak yang tersebar di seluruh Indonesia dan sekitar 1.600 orang di antaranya adalah karyawan Kantor Pusat dan TVRI Stasiun Pusat Jakarta.
TVRI bersiaran dengan menggunakan dua sistem yaitu VHF dan UHF, setelah selesainya dibangun stasiun pemancar Gunung Tela Bogor pada 18 Mei 2002 dengan kekuatan 80 Kw. Kota-kota yang telah menggunakan UHF yaitu Jakarta, Bandung dan Medan, selain beberapa kota kecil seperti di Kalimantan dan Jawa Timur.
TVRI Pusat Jakarta setiap hari melakukan siaran selama 19 jam, mulai pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB dengan substansi acara bersifat informatif, edukatif dan entertain.
3.1.5 TVRI Dewasa Ini
Dengan perubahan status TVRI dari Perusahaan Jawatan ke TV Publik sesuai dengan undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, maka TVRI diberi masa transisi selama 3 tahun dengan mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 2002 di mana disebutkan TVRI berbentuk PERSERO atau PT.
Melalui PERSERO ini Pemerintah mengharapkan Direksi TVRI dapat melakukan pembenahan-pembenahan baik di bidang Manajemen, Struktur Organisasi, SDM dan Keuangan. Sehubungan dengan itu Direksi TVRI tengah melakukan konsolidasi, melalui restrukturisasi, pembenahan di bidang Marketing dan Programing, mengingat sikap mental karyawan dan hampir semua acara TVRI masih mengacu pada status Perjan yang kurang memiliki nilai jual.
Khusus mengenai karyawan, Direksi TVRI melalui restrukturisasi akan diketahui jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan, berdasarkan kemampuan masing-masing individu karyawan untuk mengisi fungsi-fungsi yang ada dalam struktur organisasi sesuai dengan keahlian dan profesi masing-masing, dengan kualifikasi yang jelas. Melalui restrukturisasi tersebut akan diketahui apakah untuk mengisi fungsi tersebut di atas dapat diketahui, dan apakah perlu dicari tenaga profesional dari luar atau dapat memanfaatkan sumberdaya TVRI yang tersedia.
Dalam bentuk PERSERO selama masa transisi ini, TVRI benar-benar diuji untuk belajar mandiri dengan menggali dana dari berbagai sumber antara lain dalam bentuk kerjasama dengan pihak luar baik swasta maupun sesama BUMN serta meningkatkan profesionalisme karyawan.
Dengan adanya masa transisi selama 3 tahun ini, diharapkan TVRI akan dapat memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh undang-undang penyiaran yaitu sebagai TV publik dengan sasaran khalayak yang jelas. Bertepatan dengan peringatan hari kebangkitan nasional tanggal 20 Mei 2003 yang lalu, TVRI mengoperasikan kembali seluruh pemancar stasiun relay TVRI sebanyak 376 buah, yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sebagai stasiun televisi pertama di negeri ini, TVRI telah melalui perjalanan panjang dan mempunyai peran strategis dalam perjuangan dan perjalanan kehidupan bangsa. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang penyiaran, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-44 (24 Agustus 2006), TVRI resmi menjadi Lembaga Penyiaran Publik.
3.2 Program kegiatan Kuliah Kerja Lapangan
Dalam melakukan Kuliah kerja lapangan di TVRI, kami diberikan pengarahan mengenai tata cara dalam pembuatan berita, serta jadwal praktek dalam penerapan setelah kami memahami dengan baik mengenai tata cara dan etika press yang diberikan
Dibawah ini merupakan jadwal yang kami lakukan selama mengikuti kegiatan kuliah kerja lapangan di TVRI :
3.2.1 Peogram Kegiatan Teori TVRI
1. Tanggal 8 Juni 2009
Pengajar : Dony ( Editor Senior News TVRI )
Pengenalan Unsur Siaran :
• Unsur Produksi Pemberitaan TVRI
• Tahap Produksi Pemberitaa
• Peralatan Produksi
• Editing Produksi
• Biaya Produksi
2. Tanggal 9 Juni 2009
Pengajar : Lucky ( Produser Pemberitaan dan Siaran TVRI )
Pengenalan dan perencanaan dalam pemberitaan
• Pengenalan Divisi Pemberitaan
• Perencanaan pemberitaan sebelum siaran
• Teknik dalam memuat Berita disesuaikan dengan Rumus TVRI (3M1H) Membaca, Melihat, Mendengar, dan Hati
3. Tanggal 10 Juni 2009
Pengajar : Djuli Elfano ( Cameramen Senior TVRI )
Pengenalan Dalam Menggunakan kamera dan teknik pengambilan gambar dalam peliputan
4. Tanggal 11 Juni 2009
Pengajar : Azml Fauzi ( Program Director TVRI )
Pengenalan Tugas Seorang Reporter dan Teknik dalam Peliputan serta Wawancara
5. Tanggal 12 Juni 2009
Pengajar : Karya Sembiring ( Kordinator PUSLITBANG TVRI )
Penerapan dalam Pemuatan berita yang akurat dan berimbang, serta teknik dalam pembuatan naskah sebelum disiarkan.
6. Tangggal 13 Juni 2009
Pengajar : Doni ( Editor Senor )
Pengenalan dalam Meng Edit gambar sebelum ditayangkan
7. Tanggal 14 Juni 2009
Sosialisasi dengan para Crew TVRI Divisi pemberitaan dan pengambilan jadwal Liputan untuk penerapan di lapangan.
3.2.2 Program Kegiatan Praktek Peliputan TVRI
1. Tanggal 15 Juni 2009
Memantau kampanye cawapres wiranto dan tim sukses JK-WIN
Cameramen : Tom E
Reporter : Arian Tarigan
Tugas KKL : Ass. Reporter
2. Tanggal 16 Juni 2009
Konferensi Press ke Departemen Perhubungan “ Pekan Nasional Keselamatan Jalan Ke-3 tahun 2009” Nara sumber :
• Ketua GRSP : Dr. Ir. Giri Suseno. Msc
• Dirjen LLAJ : Sudirman Lambali
• Dir KTD : Suripno
Cameramen : Sukatno
Reporter : Roesmini ( Berhalangan )
Tugas KKL : Reporter ( menggantikan Roesmini )
3. Tanggal 17 Juni 2009
Wawancara Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri di PTIK dan Dir 1 Bareskrim Mabes Polri “ Meminta peryataan kapolri tentang kasus ledakan di Mako Brimob Kelapa dua dan Laporan Bawaslu terhadap Capres-Cawapres SBY-Budiono”
Cameramen : Agus Murdoko
Reporter : Fera Belinda
Tugas KKL : Ass. Reporter
4. Tanggal 18 Juni 2009
Wawancara Kabareskrim di Mabes Polri“ Pelimpahan Kasus Antasari dan SP3 Bawaslu tentang Cawapres SBY-Budiono”
Cameramen : Tri dan Tio
Reporter : Muklis
Tugas KKL : Ass. Reporter
5. Tanggal 19 Juni 2009
Konferensi Pers Departemen Luar Negeri “ Deplu menyiapkan pengacara di setiap Konsulat RI untuk membantu TKI dalam penyelesaian masalah hukum disetiap negara bersangkutan dan Klarifikasi WNI Oe Wiliam Winata yang Terindikasi terkena Virus H1N1 ( Flu Babi ) di singapore Dalam Perjalanan dari Melbourne Autralia. Serta RI-Malaysia, Pemerintah akan menyiapkan 1 (satu) Nota kesepahaman pada bulan Juli, ini adalah perundingan ke 14”
Cameramen : Dadang
Reporter : Meutia
Tugas KKL : Ass. Reporter
6. Tanggal 23 Juni 2009
Liputan ke Kejagung mengenai kasus antasari anshar serta mengenai kasus korupsi Damkar dilingkungan departemen dalam negri.
Cameramen : Agus Murdoko
Reporter : Fanny
Tugas KKL : Ass. Reporter
7. Tanggal 24 Juni 2009
Liputan ke Departemen Keuangan, wawancar mentri keuangan serta konpres Dirjen Pajak, dalam rangka kegiatan sistem pajak baru.
Cameramen : Bintang
Reporter : Fitri
Tugas KKL : Ass. Reporter
8. Tanggal 25 Juni 2009
Liputan ke DPR-RI Komisi IX ( Kegiatan Prioritas ) mengenai program pengembangan rakyat tertinggal.
Cameramen : Tio Posma
Reporter : Roesmini
Tugas KKL : Ass. Reporter
9. Tanggal 26 Juni 2009
Liputan ke Komnas Perempuan, mengenai kontrak politik dengan calon capres-cawapres 2009-2014
Cameramen : Kombang
Reporter : Fitri
Tugas KKL : Ass. Reporter
10. Tanggal 27 Juni 2009
Memantau kegiatan Capres Megawati dan Cawapres Prabowo
Cameramen : Tio
Reporter : Arian Tarigan
Tugas KKL : Ass. Reporter
3.3 Analisa Hubungan Antara Kegiatan Jurnalistik Dengan Tempat KKL(TVRI)
Berdasarkan analisa kami hubungan antara tempat kuliah kerja lapangan yaitu TVRI dengan jurnalistik, sangat erat kaitannya itu dikarenakan TVRI merupakan salah satu media komunikasi yang berbentuk sebuah media elektronik (televisi) dan mempunyai fungsi salah satunya adalah memberikan informasi kepada khalayak luas, dan menurut saya ini semua merupakan salah satu fungsi dari jurnalistik.
Pada praktek kerja lapangan yang kami lakukan di TVRI, hubungan tersebut kami analisa sangat bertautan atau mempunyai hubungan yang sangat erat karena dalam praktek peliputan sebuah berita, kami diajarkan agar menggunakan kode etik jurrnaistik dalam pemuatan sebuah berita, dan ini juga harus berdasar dengan prinsip yang berlaku di TVRI yaitu, 3 M 1H. Melihat, Membaca, Mendengar, dengan Hati. Dengan prinsip tersebut, dalam proses pengambilan berita kita dituntut untuk tetap berpegang pada aturan-aturan yang berlaku di dunia jurnalistik, dan juga yang berlaku terhadap prinsip-prinsip yang telah di gariskan oleh TVRI (3M 1H), yang merupakan suatu pelengkap dari prinsip jurnalistik yang ada (5W 1H).
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan dan Saran
Setelah sekian lama atau tepatnya selama dua minggu kami melakukan kegiatan KKL di TVRI, banyak sekali pengalaman yang kami dapat. Baik itu tentang seluk beluk kegiatan politik yang dalam hal ini adalah peliputan berita tentang Pilpres, maupun tentang ilmu jurnalistik yang kami dapatkan dalam kegiatan tersebut. Meskipun kami mengakui bahwa ternyata ilmu yang kami dapatkan di bangku kuliah jika di bandingkan dengan praktek secara langsung di lapangan masih terbilang sedikit, tetapi setidaknya kami telah mempunyai bekal pengetahuan yang sangat membantu sekali dalam kegiatan peliputan berita yang kami lakukan dalam KKL ini.

Senin, 06 Februari 2012

Proposal Metode Penelitian Komunikasi


Oleh : anna Karina D (0935160006)

UTA 45’ Jakarta 2012
  1. Judul Penelitian    : Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Oleh Mahasiswa Program Studi Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial UTA 45’ Jakarta.
  2. Bidang Ilmu                : Ilmu Sosial
Pendahuluan
a.    Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran, maka keberhasilan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh faktor pengajar/dosen, melainkan sangat dipengaruhi oleh keaktifan mahasiswa. Kurikulum baru tahun 2004 mempertegas bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta belajar, pengajar bukan sebagai satu-satunya sumber belajar atau sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator dalam pembelajaran.  
Selain sumber belajar berupa perpustakaan yang tersedia di kampus, sekarang ini berkembang teknologi internet yang memberikan kemudahan dan keleluasaan dalam menggali ilmu pengetahuan. Melalui internet mahasiswa dapat mengakses berbagai literatur dan referensi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dengan cepat, sehingga dapat mempermudah proses studinya.
Penelitian ini ingin mengetahui sejauh mana mahasiswa Komunikasi (FISIP) UTA 45’ telah memanfaatkan teknologi internet sebagai sumber belajar yang mendukung proses belajarnya di bangku kuliah. 

b.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber belajar, antara lain : optimalisasi pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar, pemenuhan koleksi buku-buku yang tersedia di perpustakaan, pemanfaatan internet sebagai sumber belajar, serta pemanfaatan sumber daya lingkungan sebagai sumber belajar.

c.    Batasan Masalah
Meskipun banyak permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran, namun dalam penelitian ini hanya membatasi pada masalah pemanfaatan internet sebagai sumber belajar oleh mahasiswa Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial UTA 45’. 

d.    Rumusan Masalah
Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka masalah tersebut dirumuskan sebagai berikut : 
  1. Apakah mahasiswa Komunikasi UTA 45’ telah memanfaatkan internet sebagai sumber belajar ? 
  2. Alasan apa yang memotivasi mahasiswa Komunikasi UTA 45’ memanfaatkan internet sebagai sumber belajar ?
  3. Faktor apa sajakah yang mendukung dan menghambat mahasiswa Komunikasi UTA 45’ untuk memanfaatkan internet sebagai sumber belajar ?
e.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
  1. Jumlah mahasiswa Komunikasi UTA 45’ yang telah memanfaat kan internet sebagai sumber belajar. 
  2. Alasan yang memotivasi mahasiswa Komunikasi UTA 45’ memanfaat kan internet sebagai sumber belajar.
  3. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat mahasiswa komunikasi UTA 45’ memanfaatkan internet sebagai sumber belajar.
f.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
  1. Bagi mahasiswa, untuk lebih meningkatkan pemanfaatan teknologi internet sebagai sumber belajar, sehingga mempercepat masa studinya. 
  2. Bagi program studi, sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan dan program kerja yang berkaitan dengan fasilitas sumber belajar.
  3. Bagi peneliti, sebagai dorongan untuk lebih meningkatkan penguasaan teknologi informasi sehingga dapat memperbaiki kemampuan dalam mengajar.
g.    Definisi Operasional 
  1. Internet : Adalah jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga berbagai jenis dan bentuk informasi dapat diakses dari berbagai belahan dunia secara cepat.  
  2. Sumber Belajar : Segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.
Kajian Pustaka
a.    Pengertian Internet

Internet adalah kependekan dari inter-network. Secara harfiah mengandung pengertian sebagai jaringan komputer yang menghubungkan beberapa rangkaian (www.wikipedia.com). Jaringan internet juga didefinisikan sebagai jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dikomunikasikan antar belahan dunia secara instan dan global (www.jurnal-kopertis4.org).   Selain kedua pengertian di atas, internet juga disebut sebagai sekumpulan jaringan komputer yang menghubungkan situs akademik, pemerintahan, komersial, organisasi, maupun perorangan. Internet menyediakan akses untuk layanan telekomunikasi dari sumber daya informasi untuk jutaan pemakainya yang tersebar di seluruh dunia. Layanan internet meliputi komunikasi langsung (e-mail, chat), diskusi (usenet news, milis, bulletin board), sumber daya informasi yang terdistribusi (World Wide Web, Ghoper), remote login dan lalu lintas file (Telnet, FTP), serta berbagai layanan lainnya  (www.andhika.com).
Sejalan dengan perkembangan internet, telah banyak aktivitas yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, seperti e-Commerce, e-Banking, e-Government, e-Learning dan lainnya. Salah satu aktivitas yang berkaitan dengan proses pembelajaran adalah e-Learning. E-Learning adalah wujud penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan dalam bentuk  sekolah maya. E-Learning merupakan usaha untuk membuat sebuah transformasi proses belajar mengajar di sekolah dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi internet.  

b.    Internet dalam Kegiatan Belajar
Fred S Keller, teknolog pendidikan era tahun 1960-an mengkritik penerapan metode-metode pembelajaran konvensional yang kurang menarik perharian peserta didik. Menurut dia, peserta didik harus diberi akses yang lebih luas dalam menentukan apa yang ingin mereka pelajari  sesuai minat, kebutuhan, dan kemampuannya. Dikatakannya pula bahwa guru bukanlah satu-satunya pemegang otoritas pengetahuan di kelas. Siswa harus diberi kemandirian untuk belajar dengan berbagai sumber belajar (www.kompas.com).
Kekayaan informasi yang sekarang tersedia di internet  telah lebih mencapai harapan dan bahkan imajinasi para penemu sistemnya. Melalui internet dapat diakses sumber-sumber informasi tanpa batas dan aktual dengan sangat cepat. Adanya internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat dalam bentuk Digital Library. Sudah banyak pengalaman tentang kemanfaatan internet dalam penelitian dan penyelesaian tugas akhir mahasiswa. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat juga dilakukan melalui internet. Tanpa teknologi internet banyak tugas akhir dan thesis atau bahkan desertasi yang mungkin membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikannya (www.jurnal-kopertis4.org).
Para akademisi merupakan salah satu pihak yang paling diuntungkan dengan kemunculan internet. Berbagai referensi, jurnal, maupun hasil penelitian yang dipublikasikan melalui internet tersedia dalam jumlah yang berlimpah. Para mahasiswa tidak lagi harus mengaduk-aduk buku di perpustakaan sebagai bahan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Cukup memanfaatkan search engine, materi-materi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan cepat. Selain menghemat tenaga dan biaya dalam mencarinya, materi-materi yang dapat ditemui di internet cenderung lebih up to date.
Bagi para pengajar, internet bermanfaat dalam mengembang kan profesinya, karena dengan internet dapat : (a) meningkatkan pengetahuan, (b) berbagi sumber diantara rekan sejawat, (c) bekerjasama dengan pengajar di luar negeri, (d) kesempatan mempublikasikan informasi secara langsung, (e) mengatur komunikasi secara teratur, dan (f) berpartisipasi dalam forum-forum lokal maupun internasional. Di samping itu para pengajar juga dapat memanfaatkan internet sebagai sumber bahan mengajar dengan mengakses rencana pembelajaran atau silabus online dengan metodologi baru, mengakses materi kuliah yang cocok untuk mahasiswanya, serta dapat menyampaikan ide-idenya.
Sementara itu mahasiswa juga dapat menggunakan internet untuk belajar sendiri secara cepat, sehingga akan meningkatkan dan memeperluas pengetahuan, belajar berinteraksi, dan mengembangkan kemampuan dalam bidang penelitian (www.pendidikan.net).
Dalam www.jurnal-kopertis4.org disebutkan beberapa manfaat internet bagi pendidikan di Indonesia, yaitu : akses ke perpustakaan, akses ke pakar, perkuliahan online, layanan informasi akademik, menyediakan fasilitas mesin pencari data, menyediakan fasilitas diskusi, dan fasilitas kerjasama.  

c.    Pengertian Sumber Belajar
Menurut Association for Educational Communications and Technology sumber pembelajaran adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sumber pembelajaran dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu : 
  1. Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan (learning resources by design), yakni semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal; dan 
  2. Sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan (learning resources by utilization), yakni sumber belajar yang tidak secara khusus didisain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan dimanfaatkan untuk keperluan belajar-salah satunya adalah media massa.
Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Pengertian "dapat" di sini menekankan pada pengertian, bahwa jumlah sebenarnya penerima pesan informasi melalui media massa pada saat tertentu tidaklah esensial. Yang penting ialah "The communicator is a social organization capable or reproducing the message and sending it simultaneously to large number of people who are spartially separated”. Adapun bentuk media massa, secara garis besar, ada dua jenis, yaitu : media cetak (surat kabar dan majalah, termasuk buku-buku) dan media elektronik (televisi dan radio, termasuk internet)
Berdasarkan kajian pustaka di atas menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan di perguruan tinggi dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain : peningkatan kompetensi dosen, peningkatan muatan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan penilaian hasil belajar, peningkatan bekal ketrampilan mahasiswa, penyediaan bahan ajar yang memadai, dan penyediaan sarana belajar. Ketersediaan bahan ajar dan sarana belajar merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Namun demikian sering kali bahan ajar yang ada di perpustakaan tidak mampu memenuhi kebutuhan belajar mahasiswa, sehingga perlu memanfaatkan sumber belajar yang lain. Salah satu sumber belajar yang dapat digunakan oleh mahasiswa secara mandiri adalah jaringan internet. Untuk itu, bekal ketrampilan mahasiswa khususnya dalam memanfaatkan teknologi internet sangat diperlukan.
Melalui internet, mahasiswa dapat mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan yang relevan dengan subjek mata kuliah.  Sehingga pemanfaatan jaringan internet sebagai sumber belajar, akan membantu mempermudah dan mempercepat penyelesaian tugas-tugas perkuliahan, termasuk penyelesaian tuga akhir.
Oleh karena itu, dosen sebagai motivator dan dinamisator dalam pembelajaran hendaknya memberi dorongan serta menciptakan kondisi agar mahasiswa dapat secara aktif menemukan ilmu pengetahuan baru melalui pemanfaatan teknologi internet. 

Metodologi Penelitian
a.    Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian survai, yang dipakai untuk tujuan eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi tentang pemanfaatan internet sebagai sumber belajar oleh mahasiswa FISIP - Komunikasi UTA 45’.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dan wilayah generalisasi penelitian ini adalah mahasiswa FISIP-Komunikasi UTA 45’ yang meliputi mahasiswa angkatan 2008, 2009, 2010, dan 2011. Sampel penelitian diambil secara proporsional random sampling. 

b.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

c.    Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif dengan tabulasi dan persentase.

Daftar Pustaka
Anonim. (2005). Sekilas Perkembangan Internet di Indonesia. www.jurnal-kopertis4.org. diambil 24 Februari 2006.
Anonim. (2005). Kamus Istilah Internet.(www.wikipedia.com). diambil 24 Februari 2006.
Andhika. (2005). Apa itu Internet ? (www.andhika.com). diambil 25 Februari 2006.